Berita Utama

Tambang Maut Baru 10 Hari Digali

Masih ada 4 korban yang dirawat di RSUD Lebong dan Puskesmas terdekat dengan lokasi kejadian.

CamkohaNews – Tambang tradisional di Kabupaten Lebong kembali memakan korban jiwa. Dua nyawa melayang lantaran diduga keracunan asap genset pada Kamis (11/5) sore. Tambang maut ini berlokasi di kawasan Blimau desa Gunung Alam kecamatan Pelabai Lebong.

(Baca juga: Kapolda Instruksikan Usut Legalitas Tambang Emas Maut)

Ketika itu ada enam penambang yang bekerja, yakni Brigpol Nopeke, Suarjo, Mamat, Roses, Gulam dan Muris.

Saat di lokasi tambang, empat orang masuk ke dalam lubang tambang, untuk melakukan penggalian. Keempatnya, Brigpol Nopeke, Suarjo, Mamat dan Roses.

Sedangkan dua penambang lainnya Gulam serta Muris menunggu di luar tambang. Sedangkan korban tewas, atas nama Brigpol Nopeke dan Suarjo.

Muris, korban selamat menuturkan, berkelang beberapa saat setelah keempat rekannya masuk ke dalam lubang, korban mamat keluar dari lubang. Saat itu, Mamat mengaku pusing.

Khawatir dengan kondisi ketiga temannya, korban Mamat lantas meminta Gulam masuk ke dalam lubang tambang, untuk membantu yang lainnya. Tanpa menghiraukan bahaya dan mempertaruhkan nyawanya, Gulam memberanikan diri masuk ke dalam lubang.

Usaha Gulam tidak sia-sia. Dia berhasil menyelamatkan korban Roses, yang saat itu sudah lemas. Sementara dua korban tewas, Nopeke serta Suarjo, masih berada di dalam lubang tambang.

Sementara Gulam menyelamatkan Roses, Muris berusaha mencari bantuan dengan mendatangi desa terdekat yang berjarak sekitar 30 menit perjalanan.

Jasad korban Nopeke dan Suarjo baru berhasil dievakuasi setelah puluhan warga datang ke lokasi.

Tambang emas lokasi keracunan ini baru 10 hari digali. Hingga Kamis siang, lubang tambang dengan kondisi mendatar sudah sepanjang 50 meter, dan kemudian baru menjorok ke dalam tanah sekitar 3 meter.

Selama menggali lubang tersebut, para penambang mengaku bekerja seperti biasa. Hanya saja hari Kamis siang mereka sengaja membawa genset masuk ke dalam lubang untuk menyemprotkan air ke tanah agar mudah digali.

Mereka tidak mengira, bila genset yang mereka bawa akhirnya malah membawa petaka.

(Beni Septiadi)

 

Berita Terkini

To Top