Seluma

Batasi TBS, Puluhan Petani Sawit ini Protes ke PT. Agri Andalas

Aksi protes petani kelapa sawit saat dihadang security PT Agri Andalas.

CamkohaNews – Suasana ricuh sempat terjadi di depan pintu gerbang pabrik cpo PT Agri Andalas, di Kelurahan Dermayu Kecamatan Air Periukan pada Jumat siang (13/7) sekitar pukul 10.00 wib. Puluhan petani yang sudah terjebak antre selama 4 hari dengan membawa hasil panen mereka, memprotes kebijakan pihak perusahaan, yang tiba-tiba mengeluarkan aturan sawit yang hanya menerima tandan buah sawit yang masih segar, sedangkan antrean truk pembawa tandan buah sawit para petani sudah 4 malam mengantre dan tak kunjung dibongkar.

Salah seorang petani sawit yang tinggal di Desa Pasar Ngalam Kecamatan Air Periukan, Amok (43) menyayangkan pihak perusahaan yang hanya ingin buah sawit segar, sedangkan antrean hingga 4 hari lamanya, sehingga aturan ini sangat merugikan para petani dari desa penyangga perusahaan PT Agri Andalas, karena lebih memprioritaskan hasil dari kebun inti milik perusahaan.

“Kalau pihak perusahan Agri Andalas mau buah segar, barang mustahil kami bisa, jika antrian selama ini. Jelas ini aturan yang sangat merugikan kami,” ujar Amok.

Selain itu, kerugian petani sawit yang menjual TBS Ke PT Agri Andalas yakni saat melakukan pembongkaran, mengaku mengalami pemotongan (sortir) dari pihak pabrik hingga 5 ton per truknya, yang rata-rata setiap truk membawa 10 ton, dengan harga per kilogramnya hanya Rp 940, jauh dari ketetapan yang gubernur. Berikut ini tuntutan petani ke PT Agri Andalas :

Tuntutan petani, pemegang DO PT Agri Andalas :

  1. Tambah kuota pembelian TBS milik petani, minimal 400 ton,hari.
  2. Naikan harga pembelian TBS sesuai aturan pemprov bengkulu sebesar rp 1.200,kg.
  3. TBS milik petani juga harus menjadi prioritas, sama seperti TBS milik perusahaan.
  4. Perusahaan harus mencari cara untuk mengurai antrean TBS milik petani.
  5. Sortiran TBS maksimal 5 persen dari total muatan truk.

Imbas dari tidak dibongkarnya TBS milik petani ini, juga dirasakan oleh kuli bongkar TBS. Para tenaga upah bongkar muatan juga tidak dapat bekerja, karena petani menolak membongkar TBS-nya, jika aturan tersebut belum dicabut oleh pihak perusahaan.

“Kami juga dirugikan dengan adanya aksi mogok ini. Kami ini juga mau menafkahi anak istri, kalau tidak ada bongkaran otomatis kami tidak dapat uang,” keluh Febi (35) ketua SPTI PT. Agri Andalas.

Sementara itu, kericuhan dan ribut mulut tersebut teratasi setelah manajemen perusahaan meminta perwakilan dari pihak petani, pemegang delivery order (pemegang order) TBS kelapa sawit milik petani di PT Agri Andalas diminta menghadap untuk menyelesaikan permasalahan tersebut.

“Hasil rapat tadi mereka mencabut aturan tersebut, dan sementara truk yang telah mengantre ini akan diprioritaskan untuk dibongkar dua hari ini,” jelas salah seorang pemilik DO PT. Agri Andalas, Juno alias Gareng (37) usai rapat.

Dan dari rapat tertutup yang digelar tersebut akhirnya pihak PT Agri Andalas mencabut aturan yang telah ditetapkan sebelumnya. Dan semua truk milik petani yang telah mengantre akan diprioritaskan, untuk dibongkar selama dua hari terakhir, sedangkan jika ada truk yang baru datang, maka akan mendapat jatah bongkar hari Senin lusa (16/7).

Sementara itu, pihak manajemen perusahaan PT Agri Andalas, Erwin saat dikonfirmasi mengatakan tetap akan memprioritaskan TBS milik petani. Namun untuk kuota pembelian dan harga TBS milik petani hanya  sebanyak 200 ton per hari, dengan harga sebesar Rp 940 perkilogramnya.

(Hari Adiyono)

Berita Terkini

To Top